Mundurnya Perry, Munculnya Destry: Transisi Kepemimpinan BI
1. Perry Warjiyo Mundur: Kekosongan dan Mekanisme Pergantian Gubernur BI
Pada 25 Juli 2026, Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut menimbulkan kebutuhan untuk memastikan bahwa fungsi kepemimpinan BI tetap berjalan selama proses pengisian jabatan Gubernur secara definitif. Untuk itu, dalam Rapat Dewan Gubernur pada 26 Juli 2026, Bank Indonesia menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara. Dengan mekanisme ini, pengunduran diri Perry tidak menyebabkan terhentinya pelaksanaan tugas Gubernur, sementara proses untuk menentukan penggantinya dapat berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Proses pengisian jabatan Gubernur definitif kemudian berjalan melalui mekanisme kelembagaan yang melibatkan Presiden dan DPR. Kerangka hukum yang mengatur Bank Indonesia telah mengalami perubahan melalui UU No. 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, yang berlaku sejak 17 Juni 2026. Dalam praktiknya, proses tersebut mulai dipersiapkan oleh DPR setelah pengunduran diri Perry. Komisi XI DPR menyatakan akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon Gubernur BI secara objektif dan profesional. Tahap tersebut menjadi bagian dari proses DPR sebelum memberikan persetujuan terhadap calon yang diajukan Presiden.
Tahapan tersebut kemudian memasuki proses konkret ketika Presiden Prabowo Subianto mengusulkan empat nama calon anggota Dewan Gubernur BI melalui Surat Presiden yang disampaikan kepada DPR pada 10 Agustus. Kemudian pada 13 Agustus 2026, E-media DPR memberitakan bahwa Destry Damayanti diusulkan sebagai calon tunggal Gubernur BI, sedangkan Aida S. Budiman diusulkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior serta Solihin M. Juhro dan M. Anwar Bashori sebagai calon Deputi Gubernur. Keempat calon tersebut selanjutnya akan menjalani fit and proper test di DPR sebelum calon yang memperoleh persetujuan dilantik oleh Presiden. Dengan demikian, transisi kepemimpinan BI saat ini berpusat pada satu figur yang telah menjalankan fungsi Gubernur secara sementara sekaligus sedang diproses untuk menduduki jabatan tersebut secara definitif yaitu Destry Damayanti. Dari sini, persoalannya tidak lagi sekadar mengenai bagaimana kekosongan jabatan Gubernur BI ditangani, tetapi juga mengenai siapa figur yang berada di balik proses transisi tersebut dan bagaimana rekam jejaknya membawanya ke posisi calon Gubernur BI
2. Siapa Destry Damayanti?
2.1 Latar Belakang dan Rekam Jejak Destry Damayanti
Destry Damayanti merupakan ekonom yang memiliki pengalaman panjang di sektor publik dan keuangan sebelum bergabung dengan Bank Indonesia. Ia memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan kemudian melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar Master of Science dalam bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat. Kariernya dimulai sebagai Senior Economic Adviser pada Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000–2003, sebelum menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia kemudian berkarier di sektor keuangan sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005–2011 dan Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011–2015. Pengalamannya di sektor publik berlanjut ketika ia menjadi Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN pada 2014–2015 dan Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan pada 2015–2019. Rekam jejak tersebut kemudian membawanya ke Bank Indonesia. Pada 2019, Destry dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior BI untuk periode 2019–2024 dan kembali dipercaya menduduki posisi yang sama untuk periode 2024–2029. Dengan pengalaman tersebut, Destry telah berada dalam lingkungan ekonomi, sektor keuangan, dan kelembagaan kebijakan publik selama lebih dari dua dekade sebelum akhirnya masuk dalam proses pencalonannya sebagai Gubernur BI.
2.2 Pemikiran Ekonomi: Financial Market Deepening
Pengalaman-pengalaman sebelumnya kemudian tercermin dalam perhatian Destry terhadap pendalaman pasar keuangan (financial market deepening) dan peran Bank Indonesia dalam memperkuat efektivitas kebijakan moneter. Salah satu publikasi yang menunjukkan gagasan tersebut adalah Financial Market Development in Indonesia, yang ditulis Destry bersama Yoga Affandi, Indra G. Sutarto, dan Mario S. Simatupang. Paper tersebut menempatkan pendalaman pasar keuangan sebagai bagian dari upaya memperkuat transmisi kebijakan moneter sekaligus menjaga stabilitas keuangan. Pendalaman pasar, dalam kerangka tersebut, tidak hanya membutuhkan peran aktif otoritas, tetapi juga partisipasi yang lebih besar dari pelaku pasar sehingga perkembangan pasar keuangan dapat berlangsung tanpa mengabaikan risiko terhadap stabilitas sistem keuangan. Hal ini penting bagi BI karena pasar keuangan yang lebih dalam dan efisien dapat memperkuat transmisi kebijakan moneter, sehingga perubahan kebijakan dapat lebih efektif memengaruhi kondisi pasar keuangan dan perekonomian. Selain itu, pendalaman pasar keuangan juga mendukung stabilitas sistem keuangan dan pembiayaan ekonomi nasional. Gagasan mengenai pentingnya koordinasi dan sinergi tersebut kembali terlihat dalam fit and proper test Destry pada 2024. Dalam makalah berjudul “Bank Indonesia: Sinergi Untuk Mendukung Indonesia Maju”, Destry menekankan pentingnya sinergi antara BI, pemerintah, otoritas terkait, industri, akademisi, dan lembaga lainnya dalam menghadapi semakin kompleksnya tantangan perekonomian. Dengan demikian, gagasan yang muncul dalam berbagai publikasi dan paparannya menunjukkan perhatian Destry terhadap peran BI yang tidak hanya berkaitan dengan kebijakan moneter, tetapi juga dengan pengembangan pasar keuangan melalui sinergi antarlembaga dan keterlibatan pelaku pasar.
2.3 Rekam Jejak Destry Damayanti di Bank Indonesia
Pemikiran Destry kemudian memiliki kesinambungan dengan sejumlah agenda yang didukung dan didorong Destry selama menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior. Salah satu contohnya adalah pengembangan pasar repo, yang dipandang sebagai bagian penting dari pendalaman pasar keuangan dan penguatan transmisi kebijakan moneter. Pada 2021, Destry menekankan bahwa pengembangan repo merupakan salah satu fondasi pengembangan pasar keuangan nasional, termasuk melalui perluasan partisipasi pelaku pasar. Pada 2023, ia kembali menekankan pentingnya pengembangan repo sebagai sumber pembiayaan ekonomi dan menegaskan bahwa pengembangannya membutuhkan sinergi antara regulator, instansi terkait, dan pelaku pasar. Agenda pendalaman tersebut kemudian diperluas melalui pengembangan Central Counterparty (CCP) serta instrumen repo, OIS, dan INDONIA. Dalam berbagai kesempatan, Destry mengaitkan pengembangan instrumen tersebut dengan upaya memperdalam pasar keuangan, memperbaiki pembentukan harga, serta memperkuat stabilitas sistem keuangan. Keterlibatannya dalam kebijakan moneter juga terlihat dalam perannya sebagai Pejabat Gubernur Sementara, ketika ia memimpin Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18–19 Agustus 2026 yang memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Rangkaian tersebut menunjukkan adanya kesinambungan antara gagasan yang dikemukakan Destry mengenai pendalaman pasar keuangan dan agenda yang kemudian ia dukung selama berada di Dewan Gubernur BI. Namun, kesinambungan tersebut tidak berarti bahwa kebijakan-kebijakan tersebut merupakan keputusan pribadi Destry, karena kebijakan Bank Indonesia tetap merupakan keputusan kelembagaan yang diambil dalam kerangka Dewan Gubernur.
3. Respons Positif Pasar dan Kredibilitas Destry
3.1 Rupiah Merespons Positif
Gambar 1. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Saat Pengumuman Calon Gubernur BI Definitif

Sumber: TradingView (diolah penulis)
Pada 10 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto mencalonkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Pengumuman tersebut mendapat respons positif dari pasar, Reuters mencatat bahwa rupiah menguat setelah kabar pencalonan dan mencapai level terkuat terhadap dolar AS sejak 18 Juni 2026. Pasar melihat pencalonan Destry sebagai perkembangan yang relatif positif karena ia merupakan Deputi Gubernur Senior BI dan telah memahami kebijakan serta kondisi pasar keuangan Indonesia.
Namun, penguatan rupiah tersebut tidak dapat secara otomatis disebut sebagai Destry effect, karena nilai tukar juga dipengaruhi berbagai faktor domestik dan global. Karena itu, respons rupiah lebih tepat dibaca sebagai indikasi awal bagaimana pasar menafsirkan pencalonan Destry, bukan sebagai bukti bahwa pencalonan tersebut secara langsung menyebabkan penguatan rupiah. Dalam konteks ini, yang menjadi penting adalah bahwa pengumuman calon tunggal pada 10 Agustus memberikan kepastian lebih besar mengenai arah transisi kepemimpinan BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo.
3.2 Kontinuitas Kebijakan dan Independensi Menjadi Kabar Baik
Pencalonan Destry menjadi sinyal positif bagi pasar karena memberikan sinyal kontinuitas kebijakan sekaligus mengurangi ketidakpastian dalam masa transisi kepemimpinan BI. ING menilai Destry dapat memberikan near-term continuity karena telah berada dalam kepemimpinan BI sejak 2019 dan terlibat dalam berbagai kebijakan utama bank sentral. Penunjukannya juga dinilai dapat membantu menjaga kepercayaan pasar selama proses pergantian gubernur. Dalam konteks ini, pasar tidak hanya melihat siapa yang menggantikan Perry Warjiyo, tetapi juga apakah pengganti tersebut mampu menjaga stabilitas kebijakan BI.
Selain kontinuitas, independensi dari kepentingan politik menjadi faktor penting dalam persepsi pasar. Pengunduran diri Perry sebelumnya telah memunculkan kembali perhatian terhadap independensi BI, sehingga calon gubernur baru harus mampu meyakinkan pasar bahwa kebijakan moneter tetap berorientasi pada stabilitas. Destry dipandang sebagai figur teknokratis dan bukan figur partai politik, sehingga pencalonannya dapat memberikan tingkat kepastian yang lebih besar dibandingkan apabila pemerintah memilih figur yang memiliki afiliasi politik yang kuat. Namun, hal ini tetap menjadi sesuatu yang harus dibuktikan karena Reuters mencatat bahwa hubungan kerja Destry yang baik dengan pemerintah juga membuat pasar akan membedakan antara koordinasi kebijakan dan subordinasi BI terhadap pemerintah.
Dengan demikian, kabar baik dari pencalonan Destry bukan sekadar penguatan rupiah, tetapi juga berkurangnya ketidakpastian mengenai arah transisi BI. Kontinuitas kebijakan dan latar belakang teknokratis Destry memberikan sinyal awal yang positif, sementara kemampuan mempertahankan independensi BI akan menjadi ujian berikutnya.
4. Tantangan Kepemimpinan Destry
4.1 Menjaga Kontinuitas dan Independensi BI
Destry menghadapi situasi yang berbeda dari pergantian gubernur BI pada umumnya karena ia melanjutkan jabatan Perry Warjiyo yang berhenti sebelum masa jabatannya berakhir. Artinya, Destry masuk ketika berbagai kebijakan dan agenda BI masih berada di tengah jalan, sehingga tantangannya bukan memulai arah kebijakan baru dari awal, melainkan melanjutkan pekerjaan yang sudah dikerjakan dan memastikan kebijakan yang masih berjalan tetap memiliki kesinambungan. Pengalaman Destry sebagai Deputi Gubernur Senior menjadi modal penting dalam situasi tersebut karena ia telah berada di dalam BI dan memahami kebijakan serta kondisi pasar yang sedang dihadapi. Reuters mencatat bahwa pengalaman panjangnya di BI menjadi salah satu alasan pasar melihat pencalonannya secara positif dan mengharapkan adanya policy continuity.
Namun, kontinuitas tidak berarti Destry hanya meneruskan seluruh kebijakan sebelumnya tanpa penyesuaian. Ia tetap perlu memastikan bahwa kebijakan moneter dijalankan berdasarkan mandat dan independensi BI, terutama ketika bank sentral harus berkoordinasi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. BI menjelaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah tetap diperlukan, tetapi masing-masing lembaga harus mempertahankan pembagian tugas dan kewenangannya. Karena itu, salah satu ujian Destry adalah melanjutkan kebijakan yang masih berjalan tanpa menimbulkan persepsi bahwa arah kebijakan BI ditentukan oleh kepentingan politik jangka pendek.
4.2 Menjaga Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Eksternal
Destry juga menghadapi kondisi Rupiah yang masih rentan terhadap tekanan eksternal. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, dan arus modal dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Tekanan tersebut bahkan telah menjadi persoalan ketika Destry masih menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior. Dalam pernyataannya pada April 2026, Destry menyebut dinamika global telah meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar serta menekankan pentingnya respons kebijakan yang konsisten, pre-emptive, dan terukur untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Pada saat yang sama, BI harus menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi tanpa mengorbankan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini menciptakan policy trade-off. Kebijakan yang lebih ketat dapat membantu meredam tekanan terhadap Rupiah, tetapi berpotensi membatasi aktivitas ekonomi, sementara pelonggaran yang terlalu agresif dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi. BI sendiri menempatkan stabilitas nilai tukar dan inflasi bersama dengan dukungan terhadap pertumbuhan sebagai bagian dari bauran kebijakannya. Penguatan Rupiah setelah pencalonan Destry, yang mencapai level terkuat terhadap dolar AS sejak 18 Juni 2026, menunjukkan respons awal yang positif dari pasar terhadap prospek kesinambungan kebijakan. Namun, penguatan tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti keberhasilan kepemimpinannya. Tantangan sebenarnya adalah mempertahankan stabilitas tersebut setelah Destry memimpin BI, ketika tekanan terhadap Rupiah, inflasi, dan pertumbuhan harus dihadapi secara bersamaan.
Referensi
Bank for International Settlements. (n.d.). BIS Papers No. 113. https://www.bis.org/publ/bppdf/bispap113.pdf
Bank Indonesia. (2026, August 19). Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 18–19 Agustus2026. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2816226.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030. https://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian/Documents/BPPU__2030.pdf
Bank Indonesia. (n.d.). Independence in interdependence. https://www.bi.go.id/en/tentang-bi/profil/governance/Hubungan-dengan-Pemangku-Kepentingan.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter 2026. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_284626.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Prinsip sistem tata kelola. https://www.bi.go.id/id/tentang-bi/profil/governance/Prinsip-Tata-Kelola.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Profil Destry Damayanti. https://www.bi.go.id/id/tentang-bi/profil/details.aspx?id=63
Bank Indonesia. (n.d.). Rupiah stability amid global volatility. https://www.bi.go.id/en/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_287526.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2310421. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2310421.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2514523. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2514523.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2616624. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2616624.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2617124. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2617124.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2618624. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2618624.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2717125. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2717125.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2722725. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2722725.aspx
Bank Indonesia. (n.d.). Siaran pers Bank Indonesia – SP_2814626. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2814626.aspx
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (2024). Info dwi mingguan AKD periode 3 Juni–22 Juni 2024. https://berkas.dpr.go.id/setjen/dokumen/bk-Info-Dwi-Mingguan-AKD-Periode-3-Juni-22-Juni-2024-1719900512.pdf
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (2026, August 13). DPR segera proses 4 nama calon Dewan Gubernur BI usulan Presiden. https://emedia.dpr.go.id/news/2026/08/13/dpr-segera-proses-4-nama-calon-dewan-gubernur-bi-usulan-presiden
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (2026, July 27). Hormati undur diri Perry Warjiyo, Komisi XI siap jalankan fit and proper test secara objektif. https://emedia.dpr.go.id/news/2026/07/27/hormati-undur-diri-perry-warjiyo-komisi-xi-siap-jalankan-fit-and-proper-test-secara-objektif
Kantor Berita ANTARA. (2026, July 27). Ekonom: Penunjukan Destry jadi Pjs Gubernur BI jaga kepercayaan pasar. https://kupang.antaranews.com/berita/196512/prabowo-mengirim-surpres-ke-dpr-ajukan-destry-damayanti-jadi-gubernur-bi-definitif
Pemerintah Republik Indonesia. (2026). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2026. Database Peraturan BPK RI. https://peraturan.bpk.go.id/Details/350166/uu-no-4-tahun-2026
Reuters. (2026, April 7). Indonesia’s central bank intervenes as rupiah hits record low. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesias-central-bank-says-intervenes-fx-market-after-rupiah-hits-a-record-low-2026-04-07/
Reuters. (2026, August 10). Indonesia nominates Destry Damayanti as sole candidate for central bank governor. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-nominates-destry-damayanti-sole-candidate-central-bank-governor-2026-08-10/
Reuters. (2026, June 9). Indonesia raises rates to support sinking rupiah. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-raises-rates-surprise-move-support-sinking-rupiah-2026-06-09/
Reuters. (2026, July 27). Analysts react to Perry Warjiyo stepping down. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/analysts-reaction-bank-indonesia-governor-perry-warjiyo-stepping-down-2026-07-27/
